Minggu, 02 Juli 2017

Tugas Resume Psikologi Pendidikan setelah UTS

PELAYANAN BIMBINGAN KONSELING DI SEKOLAH Situs global yang kompetitif menjadikan peluang hidup yang lebih baik dengan cara mempersiapkan SDM melalui pendidikan yang bermutu Pendidikan yang bermutu itu ada beberapa hal yaitu: - Transformasi iptek. - Profesionalisme dan sistem manajemen tenaga kependidikan. - Pengembangan kemampuan peserta didik (aspek akademis, pribadi, sosial). Bimbingan dan Konseling sekolah Pemberian program layanan bantuan kepada para murid dalam upaya untuk mencapai perkembangan yang optimal, dengan melalui interaksi yang baik dan sehat dengan lingkunganya. Pengertian Bimbingan dan Konseling Bimbingan sendiri merupakan suatu usaha dalam hal pemberian bantuan kepada para peserta didik untuk mencapai suatu perkembangan optimal yaitu perkembangan yang sesuai dengan potensi dan sistem nilai kehidupan yang baik, sedangkan konseling itu sendiri merupakan layanan utama bimbingan dalam upaya membantu individu agar mampu mengembangkan dirinya sendiri dan juga mampu mengatasi masalah melalui tatap muka langsung atau melalui media, baik secara individu atau perkelompok. Berikut beberapa bentuk bimbingan menurut masalah, yaiut: - Bimbingan Akademik. - Bimbingan Sosial Pribadi. - Bimbingan Karir. 1.Bimbingan Akademik Bimbingan akademik ini bertujuan untuk mengarahkan dan juga membantu individu dalam menghadapi dan memecahkan masalah akdemik: - Pengenalan kurikulum. - Pemilihan jurusan. - Cara belajar. - Penyelesaian tugas dan latihan. - Pencarian dan penggunaan sumber belajar. 2.Bimbingan Sosial Pribadi Bimbingan sosial pribadi memilki tujuan untuk membantu suatu individu dalam pengembangan dan pemecahan masalah karir: - Pemahaman terhadap jabatan, tuga kerja - Pemahaman kondisi dan kemampuan diri. - Pemahaman kondisi lingkungan. - Perencanaan dan pengembangan karir. - Penyesuaian pekerjaan. - Pemecahan masalah karir. Tujuan bimbingan Adapun tujuan bimbingan ini sendiri adalah merencanakan suatu kegiatan penyelesaian studi, perkembangan karir, mengembangkan seluru potensi dan kekuatan yang dimiliki seoptimal mungkin, menyesuaikan diri dengan lingkungan pendidikan, mengatasi suatu hambatan atau kesulitan yang dihadapi dalam studi. Fungsi bimbingan Sedangkan fungsi bimbingan itu sendiri, yaitu: - Pemhamana - Preventif - Pengembangan - Perbaikan - Penyaluran - Adaptasi - Penyesuaian Prinsip-prinsip Bimbingan Beberapa dari prinsip bimbingan itu sendiri adalah bimbingan diperuntukan bagi semua individu, bersifat individualisasi, lebih menekankan hal yang positif, merupakan usaha bersama yang dimana semua oknum sekolah bekerja sama, pengambilan keputusan. Jenis layanan bimbingan Ada beberapa jenis layanan bimbingan sebagai berikut: - Pelayanan pengumpulan data tentang siswa dan lingkunganya. - Penyajian informasi yang menyajikan informasi mengenai berbagai aspek kehidupan yang dibutuhkan oleh individu itu sendiri. - Konseling merupakan layanan terpenting dalam program bimbingan yang memfasilitasi individu memperoleh bantuan pribadi secara langsung. Konsultasi dilakukan dengan beberapa orang yaitu sebagai berikut: - Dengan petugas administrasi sekolah. - Dengan staf pengajar. - Dengan wali murid baik secara individu atau dalam bentuk pertemuan dengan para wali murid. Penilaian dan peneliti memiliki tujuan untuk dapat mengetahui apa saja yang telah dicapai oleh program yang telah dilaksanakan. Asas bimbingan dan konseling Adapun beberapa asas dan konseling sebagai berikut: - Rahasia. - Sukarela. - Terbuka. - Kegiatan. - Mandiri. - Kini. - Dinamis. - Terpadu. - Harmonis. - Ahli (menggunakan kaidah yang profesional). - Ahli tangan kasus. - Mengayomi. Program bimbingan dan konseling komprehensif Ada beberapa struktur program bimbingan dan konseling komprehensif diklasifikasikan ke dalam empat jenis layanan. - Layanan dasar bimbingan yang diberikan melalui kegiatan kelas atau diluar kelas dalam membantu mengembangkan potensi siswa. - Layanan responsif yang diberikan kepada siswa yang memiliki masalah yang memerlukan bantuan. - Layanan perencanaan individual yang diberikan kepada semua siswa agar membantu dalam perencanaan masa depan. - Dukungan sistem yang diberikan. Pendekatan bimbingan - Pendekatan krisis. - Pendekatan remedial. - Pendekatan preventif. - Pendekatan perkembangan. Kualitas pribadi konselor - Pemahaman diri. - Kompeten. - Kesehatan psikologis. - Dapat dipercaya. - Jujur. - Kekuatan. - Bersikap hangat.

Tugas resume psikologi pendidikan setelah UTS

Bimbingan dan Konseling Sekolah Pengertian Bimbingan dan Konseling Bimbingan merupakan suatu upaya pemberian bantuan kepada peserta didik dalam mencapai perkembangan yang optimal yaitu perkembangan yang sesuai dengan potensi dan sistem nilai tentang kehidupan yang baik dan benar. Konseling merupakan layanan utama bimbingan dalam upaya membantu individu agar mampu mengembangkan diri dan mengatasi masalah melalui hubungan tatap muka atau melalui media, baik secara perorangan maupun kelompok. Ragam bimbingan menurut masalah Bimbingan Akademik Diarahkan untuk membantu individu dalam menghadapi dan memecahkan masalah akademik: · Pengenalan kurikulum · Pemilihan jurusan · Cara belajar · Penyelesaian tugas dan latihan · Pencarian dan penggunaan sumber belajar Bimbingan Sosial Pribadi Membantu siswa memecahkan masalah sosial pribadiL · Hubungan sesama teman · Hubungan dengan guru dan staf · Pemahaman sifat · Penyesuaian dengan lingkungan pendidikan dan masyarakat · Penyelesaian konflik Bimbingan Karir Membantu individu dalam perencanaan, pengembangan, dan pemecahan masalah karir: · Pemahaman terhadap jabatan, tugas kerja · Pemahaman kondisi dan kemampuan diri · Pemahaman kondisi lingkungan · Perencanaan dan pengembangan karir · Penyesuaian pekerjaan · Pemecahan masalah karir yang dihadapi Tujuan Bimbingan · Merencanakan kegiatan penyelesaian studi, perkembangan karir, kehidupan masa yang akan datang. · Mengembangkan seluruh potensi dan kekuatan yang dimiliki seoptimal mungkin. · Menyesuaikan diri dengan lingkungan pendidikan. · Mengatasi hambatan dan kesulitan yang dihadapi dalam studi, penyesuaian dengan lingkungan pendidikan, masyarakat maupun lingkungan kerja. Fungsi Bimbingan · Pemahaman, membantu siswa memahami potensi yang dimilikinya. · Preventif, mengantisipasi masalah dan berusaha mencegahnya. · Pengembangan, berupaya menciptakan lingkungan belajar yang kondusif. · Perbaikan (penyembuhan), membantu siswa yang telah memiliki masalah. · Penyaluran, membantu siswa memilih kegiatan pemantapan penguasaan karir. · Adaptasi, memilih metode pendidikan sesuai dengan kemampuan individu. · Penyesuaian, membantu siswa menyesuaikan diri dengan program pendidikan. Prinsip – prinsip Bimbingan · Bimbingan diperuntukkan bagi semua individu baik bermasalah maupun tidak. · Bimbingan bersifat individualisasi yang memandang setiap individu itu unik. · Bimbingan menekankan hal yang positif yang membangun pandangan yang positif terhadap diri sendiri. · Bimbingan merupakan usaha bersama di mana konselor, guru-guru dan kepala sekolah saling bekerja sama. · Pengambilan keputusan merupakan hal yang esensial dalam bimbingan. · Bimbingan berlangsung dalam berbagai setting (adegan) kehidupan di mana bimbingan tidak hanya dapat berlangsung di sekolah. Jenis Layanan Bimbingan · Penyajian informasi yang menyajikan informasi mengenai berbagai aspek kehidupan yang diperlukan individu. Orientasi/Orientation (cara belajar, pergaulan., Artikulasi/Articulation – khusus untuk calon siswa0, dll. · Konseling merupakan layanan terpenting dalam program bimbingan yang memfasilitasi individu memperoleh bantuan pribadi secara langsung. · Penempatan (Placement) dan tindak lanjut (Follow-up – khusus untuk alumni): pilihan kegiatan ekstrakurikuler, pilihan program studi, pilihan sekolah lanjutan, tindak lanjut, dll. · Konsultasi · Penilaian dan penelitian Asas Bimbingan dan Konseling · Rahasia, · Sukarela, · Terbuka, · Kegiatan, · Mandiri, · Kini, · Dinamis, · Terpadu, · Harmonis, · Ahli, · Ahli tangani kasus, · Tut wuri handayani (mengayomi). Pendekatan Bimbingan · Pendekatan krisis · Pedekatan Remedial · Pendekatan Preventif · Pendekatan Perkembangan Kualitas Pribadi Konselor · Karakteristik kualitas pribadi konselor: · Pemahaman diri, · Kompeten, · Kesehatan psikologis, · Dapat dipercaya, · Jujur, · Kekuatan, · Bersikap hangat, · Active responsiveness, · Sabar, · Kepekaan.

Tugas Resume Psikologi Pendidikan setelah UTS

HAIII READERS!! Kali ini saya akan membahas tentang Pelajar Yang Tidak Biasa. Apakah itu?? PELAJAR YANG TIDAK BIASA Pelajar yang tidak biasa adalah anak-anak yang memiliki gangguan atau ketidakmampuan dan anak-anak yang tergolong berbakat. Ketidakmampuan dan gangguan ( disorder ) dikelompokkan sebagai berikut : gangguan organ indra ( sensory ), gangguan fisik, retardasi mental, gangguan bicara dan bahasa, gangguan belajar ( learning disorder ), attention deficit hyperactivity disorder, dan gangguan emosional dan perilaku. GANGGUAN INDRA Gangguan indra mencakup gangguan atau kerusakan penglihatan dan pendengaran, diantaranya : 1. Gangguan Penglihatan Salah satu tugas penting untuk mengajar anak yang menderita gangguan penglihatan ini adalah menentukan modalitas agar murid dapat belajar dengan baik. Terdapat murid-murid yang mengalami problem penglihatan (visual) yang masih belum diperbaiki dan beberapa diantaranya menderita gangguan visual serius dan dikategorikan rusak penglihatannya, yang lebih dikenal dengan low vision dan murid buta.Anak low vision dapat membaca buku dengan huruf besar-besar atau dengan bantuan kaca pembesar.Anak yang “buta secara edukasional” tidak bisa menggunakan penglihatan mereka untuk belajar dan harus menggunakan pendengaran dan sentuhan untuk belajar.Banyak anak buta memiliki kecerdasan normal dan berprestasi secara akademik apabila diberi dukungan dan bantuan belajar yang tepat. Salah satu tugas penting untuk mengajar anak yang menderita gangguan atau kerusakan penglihatan ini adalah menentukan modalitas (seperti sentuhan atau pendengaran) untuk membantu anak belajar dengan baik (Bowe,2000). Salah satu persoalan dalam pendidikan murid yang buta adalah rendahnya penggunaan huruf braille dan sedikitnya guru yang menguasai huruf braille dengan baik (Hallahan & Kauffman, 2003). 2. Gangguan Pendengaran Gangguan pendengaran dapat menyulitkan proses belajar anak. Anak yang tuli sejak lahir atau menderita tuli saat masih anak-anak biasanya lemah dalam kemampuan bicara dan bahasanya. Beberapa kemajuan medis dan teknologi, seperti yang disebutkan disini, juga telah meningkatkan kemampuan belajar anak yang menderita masalah pendengaran antara lain: Pemasangan Cochlear Menempatkan semacam alat di telinga. Namun ini bukan prosedur yang permanen. Sistem hearing aids dan amplifikasi Perangkat telekomunikasi dan radiomail GANGGUAN FISIK a. Gangguan ortopedik Biasanya berupa keterbatasan gerak atau kurang mampu mengontrol gerak karena masalah di otot, tulang, atau sendi. Tingkat gangguan bervariasi. Bisa disebabkan oleh problem prenatal, atau penyakit dan kecelakaan saat anak-anak. b. Cerebral palsy Merupakan gangguan yang berupa lemahnya koordinasi otot, tubuh sangat lemah dan bicaranya tidak jelas.Penyebab umum dari cerebral palsy adalah kekurangan oksigen saat kelahiran.Banyak anak yang menderita cerebral palsy bicaranya tidak jelas. Untuk anak seperti ini, synthesizer suara dan ucapan, papan komunikasi serta peralatan talking notes dan page turners dapat meningkatkan kemampuan komunikasi mereka. c. Gangguan kejang-kejang Jenis yang paling kerap dijumpai adalah epilepsi yaitu gangguan saraf yang biasanya ditandai dengan serangan terhadap sensorimotor atau kejang-kejang.Anak yang mengalami epilepsi biasanya dirawat dengan obat anti kejang yang biasanya efektif dalam mengurangi gejala tapi tidak menghilangkan penyakitnya. Retardasi Mental Ciri utama retardasi mental adalah lemahnya fungsi intelektual (Zigler, 2002). Selain intelegensinya rendah, anak dengan retardasi mental juga sulit menyesuaikan diri dan susah berkembang. Keterampilan adaptif antara lain adalah keahlian memerhatikan dan merawat diri sendiri dan mengemban tanggung jawab sosial. Retardasi mental adalah kondisi sebelum usia 18 tahun yang ditandai dengan rendahnya kecerdasan (biasanya nilai IQ-nya dibawah 70) dan sulit beradaptasi dengan kehidupan sehari-hari. IQ rendah dan kemampuan beradaptasi yang rendah biasanya tampak sejak kanak-kanak, dan tidak tampak pada periode normal, dan keadaan retardasi ini bukan disebabkan oleh kecelakaan atau penyakit atau cedera otak. Retardasi mental diklasifikasikan menjadi retardasi ringan, moderat, berat dan parah.Individu dengan retardasi mental ringan masih banyak yang bisa bekerja dan mencari nafkah sendiri dengan dukungan pengawasan atau dukungan kelompok. Individu dengan retardasi mental berat membutuhkan lebih banyak dukungan, kemungkinan besar individu ini juga menunjukkan tanda-tanda komplikasi neurologis, seperti cerebral palsy, epilepsi, gangguan pendengaran, gangguan penglihatan atau cacat bawaan metabolis lainnya yang mempengaruhi sistem saraf pusat (Terman, dkk., 1996). a. Retardasi mental disebabkan oleh faktor genetik dan kerusakan otak (Dykens, Hodapp, & Finucane, 2000). Dari faktor genetik, bentuk yang paling umum dari retardasi mental adalah down syndrome (Sindrom Down) yang ditransmisikan (diwariskan) secara genetik. Anak dengan sindrom down ini punya kromosom lebih (kromosom 47). Dengan intervensi dini dan dukungan ekstensif dari keluarga anak dan dari kalangan profesional, banyak anak dengan sindrom down bisa tumbuh menjadi orang dewasa yang mandiri (Boyles & Contadino, 1997). Anak penderita sindrom down bisa termasuk dalam kategori retardasi ringan sampai berat (Terman, dkk., 1996). b. Selain sindrom down, ada tipe kedua dari retardasi mental yang diwariskan secara genetic yaitu Fragile X Syndrome. Sindrom ini diwariskan melalui kromosom X yang tidak normal, yang menyebabkan retardasi mental ringan sampai berat. Kerusakan otak dapat diakibatkan oleh bermacam-macam infeksi atau karena faktor lingkungan luar (DAS, 2000). c. Faktor lingkungan dari luar yang dapat menyebabkan retardasi mental antara lain adalah benturan di kepala, malnutrisi, keracunan, luka saat kelahiran atau karena ibu hamil kecanduan alcohol. Fetal Alcohol Syndrome (FAS) adalah serangkaian ketidaknormalan, termasuk retardasi mental dan ketidaknormalan wajah yang muncul dalam diri anak dari ibu yang kecanduan minuman beralkohol pada waktu hamil. Gangguan Bicara dan Bahasa Gangguan bicara dan bahasa antara lain masalah dalam berbicara (seperti gangguan artikulasi, gangguan suara dan gangguan kefasihan bicara), dan problem bahasa (seperti kesulitan menerima informasi dan mengekspresikan bahasa). Gangguan artikulasi Gangguan artikulasi adalah problem dalam pengucapan suara secara benar.Anak penderita problem artikulasi mungkin sulit berkomunikasi dengan teman atau guru dan merasa malu.Akibatnya, anak enggan bertanya, tidak mau berdiskusi atau berkomunikasi dengan temannya.Problem artikulasi umumnya bisa diperbaiki dengan terapi bicara. Gangguan suara Gangguan suara tampak dalam ucapan yang tidak jelas, keras, terlalu kencang, terlalu tinggi, atau terlalu rendah. Gangguan kefasihan Gangguan kefasihan atau kelancaran bicara biasanya dinamakan “gagap”.Kondisi ini terjadi ketika ucapan anak terbata-bata, jeda panjang atau berulang-ulang. Gangguan bahasa Gangguan bahasa adalah kerusakan signifikan dalam bahasa reseptif atau bahasa ekspresif anak.Gangguan bahasa dapat menyebabkan problem belajar serius (Bernstein & Tigerman-Farber, 2002). Gangguan / Ketidakmampuan Belajar Berdasarkan definisinya, anak yang menderita gangguan belajar : 1. Punya kecerdasan normal atau di atas normal; 2. Kesulitan dalam setidaknya satu mata pelajaran bahkan lebih; 3. Tidak memiliki problem atau gangguan lain seperti retardasi mental, yang menyebabkan kesulitan itu. Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) Attention Deficit Hyperactivity Disorderatau ADHD adalah bentuk ketidakmampuan anak yang ciri-cirinya antara lain: a. Kurang perhatian; Anak yang kurang perhatian (inattentive) sulit berkonsentrasi pada satu hal dan mungkin cepat bosan mengerjakan tugas. b. Hiperaktif; Anak hiperaktif menunjukkan level aktifitas fisik yang tinggi, hampir selalu bergerak. c. Impulsif. Anak impulsif sulit mengendalikan reaksinya dan gampang bertindak tanpa pikir panjang. Gangguan Emosional dan Perilaku Kebanyakan anak pernah mengalami gangguan emosional pada saat waktu tertentu pada masa sekolah.Gangguan perilaku dan emosional terdiri atas problem serius dan terus-menerus yang berkaitan dengan hubungan, agresi, depresi, ketakutan yang berkaitan dengan persoalan pribadi atau sekolah dan juga berhubungan dengan karakteristik sosioemosional yang tidak tepat.

Minggu, 09 April 2017

PPT Laporan Observasi Kelompok 10

Laporan Observasi kelompok 10

Testimoni perkuliahan Pendidikan

TESTIMONI PERKULIAHAN PENDIDIKAN Menurut saya selama perkuliahan psi.pendidikan ini enak,karena mudah dimengerti,alasan saya mengatakan mudah dimengerti karena kami melakukan observasi meskipun observasi kecil-kecilan tapi menurut saya itu sudah cukup karena belajar melalui praktek lebih mudah dimengerti daripada hanya teori.

MENGEKSPLORASI MOTIVASI

Pengertian Motivasi Motivasi berasal dari bahasa Latin, movere yang berarti bergerak atau bahasa Inggrisnya to move. Motif diartikan sebagai kekuatan yang terdapat dalam diri organisme yang mendorong untuk berbuat (driving force). Motif tidak berdiri sendiri, tetapi saling berkaitan dengan faktor lain, baik faktor eksternal, maupun faktor internal. Hal-hal yang mempengaruhi motif disebut motivasi. Jadi motivasi adalah keadaan dalam diri individu atau organisme yang mendorong perilaku kea rah tujuan (Walgito, 2004: 220). Sedang menurut Plotnik (2005: 328), motivasi mengacu pada berbagai factor fisiologi dan psikologi yang menyebabkan seseorang melakukan aktivitas dengan cara yang spesifik pada waktu tertentu. Motivasi adalah suatu kondisi yang menyebabkan atau menimbulkan perilaku tertentu, dan memberi arah dan ketahanan (persistence) pada tingkah laku tersebut (Wlodkowski:1985). Aspek Motivasi Tiga aspek motivasi menurut Walgito, yaitu: 1.Keadaan yang mendorong dan kesiapan bergerak dalam diri organisme yang timbul karena kebutuhan jasmani, keadaan lingkungan, keadaan mental (berpikiri dan ingatan). 2.Perilaku yang timbul dan terarah karena keadaan tersebut. 3.Sasaran atau tujuan yang dikejar oleh perilaku tersebut. Ciri motivasi menurut Plotnik, yaitu: 1.Anda terdorong berbuat atau melaksanakan suatu kegiatan. 2.Anda langsung mengarahkan energi anda, untuk mencapai suatu tujuan tertentu. 3.Anda mempunyai intensitas perasaan-perasaan yang berbeda tentang pencapaian tujuan itu. Pengertian Belajar Belajar adalah usaha yang dilakukan dengan sengaja yang dapat menimbulkan tingkah laku (baik actual/nyata maupun potensil/tidak tampak) dimana perubahan yang dihasilkan tersebut bersifat positif dan berlaku dalam waktu yang relatif lama. A.Internal Faktor yang berasal dari diri individu (sebagai input), meliputi: a)Fisiologis, meliputi kondisi jasmani, fungsi alat indera, saraf sentral, dansebagainya. b)Psikologis, meliputi minat, motivasi, emosi, inteligensi, bakat, dsb. B.Eksternal Faktor diluar diri individu yang mempengaruhi proses belajar dan hasil belajar, meliputi: a)Sosial/Lingkungan, yaitu pola asuh keluarga, dukungan dari b)Lingkungan disekitar individu, kehadiran seseorang secara langsung ataupun representasinya. Misalnya, bila teringat orangtua maka motivasi untuk menyelesaikan skripsi meningkat. c)Instrumental, meliputi alat perlengkapan belajar, ruang belajar, d)ventilasi, penerangan, cuaca, materi yang diberikan, peraturan-peraturan yang mengikat dalam proses belajar. Macam-Macam Motivasi Belajar Dalam membahas macam-macam motivasi belajar, ada dua macam sudut pandang, yakni motivasi yang berasal dari dalam pribadi seseorang yang biasa disebut ”motivasi intrinsik” dan motivasi yang berasal dari luar diri seseorang yang biasa disebut ”motivasi ekstrinsik”. a. Motivasi Intrinsik Menurut Syaiful Bahri (2002:115) motivasi intrinsik yaitu motif-motif yang menjadi aktif atau berfungsinya tidak memerlukan rangsangan dari luar, karena dalam diri setiap individu sudah ada dorongan untuk melakukan sesuatu. Sejalan dengan pendapat diatas, dalam artikelnya Siti Sumarni (2005) menyebutkan bahwa motivasi intrinsik adalah motivasi yang muncul dari dalam diri seseorang. Sedangkan Sobry Sutikno (2007) mengartikan motivasi intrinsik sebagai motivasi yang timbul dari dalam diri individu sendiri tanpa ada paksaan dorongan orang lain, tetapi atas dasar kemauan sendiri. Dari beberapa pendapat tersebut, dapat disimpulkan, motivasi intrinsik adalah motivasi yang muncul dari dalam diri seseorang tanpa memerlukan rangsangan dari luar. b. Motivasi Ekstrinsik Menurut A.M. Sardiman (2005:90) motivasi ekstrinsik adalah motif-motif yang aktif dan berfungsinya karena adanya perangsang dari luar. Sedangkan Rosjidan, et al (2001:51) menganggap motivasi ekstrinsik adalah motivasi yang tujuan-tujuannya terletak diluar pengetahuan, yakni tidak terkandung didalam perbuatan itu sendiri. Sobry Sutikno berpendapat bahwa motivasi ekstrinsik adalah motivasi yang timbul akibat pengaruh dari luar individu, apakah karena ajakan, suruhan atau paksaan dari orang lain sehingga dengan keadaan demikian seseorang mau melakukan sesuatu. Dari beberapa pendapat di atas, dapat disimpulkan, motivasi ekstrinsik adalah motivasi yang timbul dan berfungsi karena adanya pengaruh dari luar. Selain itu ada beberapa faktor yang mempengaruhi, di antaranya adalah; 1.Cara belajar Cara belajar otomatis tergantung dari orang yang belajar. Artinya, setiap orang mempunyai cara belajar yang berbeda-beda. 2.Visual Anak yang mempunyai cara belajar visual harus melihat bahasa tubuh dan ekspresi muka gurunya untuk mengerti materi pelajaran. Mereka cenderung untuk duduk di depan agar dapat melihat dengan jelas. Mereka berpikir menggunakan gambar-gambar di otak mereka dan belajar lebih cepat dengan menggunakan tampilan-tampilan visual, seperti diagram, buku pelajaran bergambar, dan video. Di dalam kelas, anak visual lebih suka mencatat sampai detil-detilnya untuk mendapatkan informasi. 3.Auditori Anak yang mempunyai cara belajar auditori dapat belajar lebih cepat dengan menggunakan diskusi verbal dan mendengarkan apa yang guru katakana. Anak auditori dapat mencerna makna yang disampaikan melalui tone suara, pitch (tinggi rendahnya), kecepatan berbicara dan hal-hal auditori lainnya. Informasi tertulis terkadang mempunyai makna yang minim bagi anak auditori mendengarkannya. Anak-anak seperi ini biasanya dapat menghafal lebih cepat dengan membaca teks dengan keras dan mendengarkan_kaset. 4.Kinestetik Anak yang mempunyai cara belajar kinestetik belajar melalui bergerak, menyentuh, dan melakukan. Anak seperti ini sulit untuk duduk diam berjam-jam karena keinginan mereka untuk beraktifitas dan eksplorasi sangatlah kuat.

Sabtu, 08 April 2017

Intelegensi Pendidikan

Haii disini saya akan meresume tentang INTELEGENSI. Semoga Bermanfaat!! INTELEGENSI Pandangan awam Inteligensi adalah istilah yang menggambarkan kecerdasan, kepintaran ataupun memampuan untuk memecahkan problem yg dihadapi -Ciri perilaku2 inteligen tinggi : kemampuan untuk memahami dan menyelesaikan problem mental dengan cepat, kemampuan mengingat, kreativitas tinggi dan imajinasi yang berkembang -Inteligen rendah : perilaku lamban, tidak cepat mengerti, kurang mampu menyelesaikan problem mental yang sederhana Inteligensi dalam definisi  Inteligensi bagaikan listrik, mudah diukur namun hampir mustahil utk didefinisikan  Terman : kemampuan seseorang untuk berpikir secara abstrak  Thorndike : kemampuan dalam memberikan respon yg baik dari pandangan kebenaran atau fakta -Wechsler : inteligensi sebagai totalitas kemampuan seseorang utk bertindak dengan tujuan tertentu, berpikir secara rasional, serta menghadapi lingkungan dengan efektif -Flynn : kemampuan berpikir secara abstrak dan kesiapan untuk belajar dari pengalaman Perbedaan pandangan awam dengan ahli -Kemamp praktis utk pemecahan masalah  Awam; Nalar yang baik Melihat hubungan diantara berbagai hal Melihat aspek permasalahan secara menyeluruh Pikiran terbuka Kemampuan memecahkan masalah  Ahli; Mampu menunjukkan pengetahuan mengenai masalah yg dihadapi Mengambil keputusan tepat Menyelesaikan masalah secara optimal Menunjukkan pikiran jernih awam Kemampuan verbal  dapat berbicara dengan artikulasi yang baik dan fasih  dapat berbicara lancar  mempunyai pengetahuan di bidang tertentu Ahli Inteligensi verbal  Kosakata baik  Membaca dengan penuh pemahaman  Ingin tahu secara intelektual  Menunjukkan keingintahuan Awam Kompetensi sosial  Menerima orang lain seperti adanya  Mengakui kesalahan  Tertarik pada masalah sosial  Tepat waktu bila berjanji Ahli Inteligensi praktis  Tahu situasi  Tahu cara mencapai tujuan  Sadar terhadap dunia sekeliling  Menunjukkan minat terhadap dunia luar Keberhasilan dalam belajar  Faktor internal Fisik : panca indera, kondisi fisik Psikologis - Non Kognitif : (minat,motivasi,kepri) - Kognitif : bakat, inteligensi  Faktor eksternal Fisik : Kondisi tempat belajar, sarana dan perleng- kapan belajar, materi belajar, kondisi lingk belj Sosial : dukungan sosial, pengaruh budaya Faktor-faktor Inteligensi  William Stern (Uni Factor Theory)  Teori kapasitas umum  Inteligensi merupakan kapasitas atau kemampuan umum, cara kerja inteligensi juga bersifat umum. Kapasitas umum timbul akibat pertumbuhan fisiologis dan akibat belajar.  Spearman : Faktor Umum (G faktor) Faktor khusus (S faktor) (Two Factors Theory) Faktor umum: yg menentukan apakah seseorang itu secara umum bodoh atau pandai Faktor khusus: yg menentukan kepandaian seseorang dalam bidang tertentu, seperti fisika, bahasa. Multi Factors Theory  Oleh E.L. Thorndike  Inteligensi terdiri dari bentuk hubungan-hubungan neural antara stimulus dan respon. Hubungan neural khusus inilah yang mengarahkan tingkah laku individu. Thurstone: Faktor umum tidak ada, yg ada hanya sekelompok faktor yang diberi nama Primary Mental Abilities (7 faktor)  Pengertian verbal  Kemampuan angka  Penglihatan keruangan  Kemampuan penginderaan  Ingatan  Penalaran  Kelancaran kata Thomson  Inteligensi mengandung banyak sekali faktor yg masing2 bebas dan berdiri sendiri, tapi faktor yang berfungsi pada suatu saat tertentu hanyalah sebagian kecil saja dari keselluruhan faktor yg ada. Tes inteligensi  Tes individual  Tes kelompok Tes Individual  Tes Binet  Skala Wechsler Tes Binet  Thn 1904: alfred Binet diminta pemerintah Perancis menyusun metode utk identifikasi anak yg tidak mampu belajar di sekolah (bersama Theophile Simon)  Berdasarkan konsep inteligensi Stern  Anak yang kurang mampu belajar di sekolah umum akan dialihkan ke sekolah khusus.  Thn 1905 : berhasil disusun Skala 1905 terdiri dari 30 item  Binet mengembangkan konsep : Mental Age (MA) MA : usia mental, level perkembangan mental indv yg beraitan dengan perkembangan lain  1912 : William Stern menciptakan konsep Intellegence Quotient (IQ) = IQ = MA/CA X 100  Jika usia mental sama dengan usia kronologis, IQ = 100  Usia mental dapat berbeda dengan usia kronologis  Bila usia mental di atas usia kronologis maka IQ > 100  Bila usia mental di bawah usia kronologis maka IQ < 100  Tes Binet mengalami revisi berkali2, disebut : Stanford-Binet  Tes binet untuk usia 2 tahun hingga dewasa  Thn 1985 : edisi ke 4 tes Stanford- Binet Skala Wechsler  Oleh David Wechsler  Memperkenalkan IQ verbal dan IQ Performance  WPPSI-R: Wechsler Preschool dan Primary Sale of Intelligence-Revised utk usia 4 – 6,5 thn  WISC-R: Wechsler Intelligence Scale for Children – Revised utk usia 6 – 16 thn  WAIS-R: Wechsler Adult Intelligence Scale – Revised Menginterpretasi skor tes IQ  Jauhi pandangan stereotip dan perkiraan negatif tentang murid  Jangan gunakan tes IQ sebagai ukuran utama untuk kompetensi  Berhati2 lah dalam menginterpretasikan makna dari seluruh nilai IQ

Jumat, 07 April 2017

Pendekatan Behavioral dalam Pembelajaran

Haii teman-teman Disini saya akan membagikan hasil resume mata kuliah pendidikan tentang pendekatan Behavioral dalam Pembelajaran Semoga Bermanfaat!!😊 Pendekatan Behavioral dalam Pembelajaran Pembelajaran adalah pengaruh permanen atas perilaku, pengetahuan, dan keterampilan berpikir, yang diperoleh melalui pengalaman. Pembelajaran melibatkan perilaku akademik dan non-akademik. A. Pendekatan behavioral untuk pembelajaran Behaviorisme adalah pandangan yang menyatakan bahwa perilaku harus dijelaskan melalui pengalamn yang dapat diamati, bukan dengan proses mental. 1. Pengkondisian klasik Pada awal 1900-an, psikolog Rusia Ivan Pavlov tertarik pada cara tubuh mencerna makanan. Pavlov menyadari bahwa asosiasi terhadap penglihatan dan suara dengan makanan ini merupakan tipe pembelajaran yang penting, yang kemudian dikenal sebagai pengkondisian klasik (classical conditioning). Pengkondisian klasik adalah tipe pembelajaran di mana suatu organisme belajar untuk mengaitkan atau mengasosiasikan stimuli. Dalam pengkondisian klasik, stimulus netral diasosiasikan dengan stimulus yang bermakna dan menimbulkan kapasitas untuk mengeluarkan respons yang sama. Pengkondisian klasik melibatkan dua tipe stimuli dan dua tipe respon, yaitu unconditioned stimulus (US), unconditioned response (UR), conditioned stimulus (CS), conditioned response (CR). UR adalah respons yang tidak dipelajari yang secara otomatis dihasilkan oleh US. CS adalah stimulus yang sebelumnya netral yang akhirnya menghasilkan CR setelah diasosiasikan dengan US. Pengkondisian klasik dapat berupa pengalaman negatif dan positif dalam diri anak di kelas. a. Generalisasi, Diskriminasi dan pelenyapan Generalisasi dalam pengkondisian klasik adalah tendensi dari stimulus baru yang sama dengan CS yang asli untuk menghasilkan respons yang sama (Jones, Kemenes & Bejamin,2001). Diskriminasi dalam pengkondisian klasik terjadi ketika organisme merespons stimuli tertentu tetapi tidak merespon stimuli lainnya (Murphy, Beker, & Fouquet ,2001). Pelenyapan (extinction) dalam pengkondisian klasik adalah pelemahan CR karena tidak adanya US. b. Desentisasi sistematis Desentisasi sistematis adalah sebuah metode yang didasarkan pada pengkondisian klasik yang dimaksudkan untuk mengurangi kecemasan dengan cara membuat individu mengasosiasikan relaksasi dengan visualisasi situasi yang menimbulkan kecemasan. Desensitisasi melibatkan sebuah tipe counterconditioning (McNeil, 2000). Perasaan rileks yang dibayangkan murid (US) menghasilkan reaksi (UR). Murid kemudian akan mengasosiasikan isyarat yang menimbulkan kecemasan (CS) dengan perasaan relaksasi. Semua isyarat yang menimbulkan kecemasan akan menghasilkan relaksasi (CR). c. Mengevaluasi pengkondisian klasik Pengkondisian klasik membantu kita memahami beberapa aspek pembelajaran dengan lebih baik. Namun, cara ini tidak efektif untuk menjelaskan perilaku sukarela, seperti mengapa murid belajar keras untuk satu mata pelajaran atau lebih menyukai sejarah ketimbang geografi. 2. Pengkondisian Operan Pengkondisian Operan adalah sebentuk pembelajaran di mana konsekuensi dari perilaku menghasilkan perubahan dalam probabilitas perilaku itu akan diulangi. a. Hukum efek Thorndike Hukum efek (law effect) Thorndike mengatakan bahwa perilaku yang diikuti dengan hasil positif akan diperkuat dan bahwa perilaku yang diikuti hasil negatif akan diperlemah. Pandangan Thorndike disebut teori S-R karena perilaku organisme itu dilakukan sebagai akibat dari hubungan antara stimulus dan respons. b. Pengkondisian operan skinner Penguatan dan hukuman Penguatan/ imbalan (reinforcement), adalah kosekuensi yang meningkatkan probabilitas bahwa suatu perilaku akan terjadi. Penguatan ada dua yaitu : 1. Penguatan positif, frekuensi respons meningkat karena diikuti dengan stimulus yang mendukung (rewarding). Dalam penguatan positif ada sesuatu yang ditambahkan atau diperoleh. 2. Penguatan negatif, frekuensi respons meningkat karena diikuti dengan penghilangan stimulus yang merugikan (tidak mennyenangkan) (Frieman,2002). Dalam penguatan negatif, ada sesuatu yang dikurangi atau dihilangkan. Hukuman (punishment) adalah konsekuensi yang menurunkan probabilitas terjadinya suatu perilaku. Generalisasi, diskriminasi dan pelenyapan Generalisasi dalam pengkondisian operant berarti memberikan respon yang sama terhadap stimuli yang sama. Diskriminasi dalam pengkondisian operan berarti pembedaan di antara stimuli dan kejadian lingkungan . dalam pengkondisian operan, pelenyapan (extinction) terjadi ketika respon penguat sebelumnya tidak lagi diperkuat dan responnya menurun di kelas, pelenyapan yang paling umum bagi guru adalah tidak lagi memberi perhatian pada suatu perilaku. B. Analisis perilaku terapan dalam pendidikan Analisis perilaku terapan adalah penerapan prinsip pengkondisian operan untuk mengubah perilaku manusia. Ada tiga penggunaan analisis perilaku yang penting dalam bidang pendidikan : 1. Meningkatkan perilaku yang diharapkan Ada 5 strategi pengkondisian operan dapat dipakai untuk meningkatkan perilaku anak yang diharapkan : a. Memilih penguat yang efektif, tidak semua penguat akan sama efeknya bagi anak. Untuk mencari penguat yang paling efektif bagi seorang anak , kita bisa meneliti apa yang memotivasi anak di masa lalu (sejarah penguatan), apa yang ingin dilakukan murid tapi tidak mudah diperolehnya, dan persepsi anak terhadap manfaat atau nilai penguat. Penguat yang sering dipakai oleh guru adalah aktivitas.Prinsip Premack, yang ditemukan oleh David Premack, menyatakan bahwa aktivitas berprobabilitas tinggi dapat berfungsi sebagai penguat aktivitas berprobabilitas rendah. b. Menjadi penguat kontingen dan tepat waktu, Agar sebuah penguat dapat efektif, guru harus memberikan hanya setelah murid melakukan perilaku tertentu. Penguat akan lebih efektif jika diberikan tepat pada waktunya, dan disegerakan secepat mungkin setelah murid menjalankan tindakan yang diharapkan. c. Memilih jadwal penguat terbaik, Skinner (1953) menyusun konsep jadwal penguatan , yang merupakan jadwal penguatan parsial yang menentukan kapan suatu respons akan diperkuat. Empat jadwal penguatan utama : -Pendekatan Behavioral dan Kognitif dalam Pembelajaran Pembelajaran adalah pengaruh permanen atas perilaku, pengetahuan, dan keterampilan berpikir, yang diperoleh melalui pengalaman. Pembelajaran melibatkan perilaku akademik dan non-akademik. A. Pendekatan behavioral untuk pembelajaran Behaviorisme adalah pandangan yang menyatakan bahwa perilaku harus dijelaskan melalui pengalamn yang dapat diamati, bukan dengan proses mental. 1. Pengkondisian klasik Pada awal 1900-an, psikolog Rusia Ivan Pavlov tertarik pada cara tubuh mencerna makanan. Pavlov menyadari bahwa asosiasi terhadap penglihatan dan suara dengan makanan ini merupakan tipe pembelajaran yang penting, yang kemudian dikenal sebagai pengkondisian klasik (classical conditioning). Pengkondisian klasik adalah tipe pembelajaran di mana suatu organisme belajar untuk mengaitkan atau mengasosiasikan stimuli. Dalam pengkondisian klasik, stimulus netral diasosiasikan dengan stimulus yang bermakna dan menimbulkan kapasitas untuk mengeluarkan respons yang sama. Pengkondisian klasik melibatkan dua tipe stimuli dan dua tipe respon, yaitu unconditioned stimulus (US), unconditioned response (UR), conditioned stimulus (CS), conditioned response (CR). UR adalah respons yang tidak dipelajari yang secara otomatis dihasilkan oleh US. CS adalah stimulus yang sebelumnya netral yang akhirnya menghasilkan CR setelah diasosiasikan dengan US. Pengkondisian klasik dapat berupa pengalaman negatif dan positif dalam diri anak di kelas. a. Generalisasi, Diskriminasi dan pelenyapan Generalisasi dalam pengkondisian klasik adalah tendensi dari stimulus baru yang sama dengan CS yang asli untuk menghasilkan respons yang sama (Jones, Kemenes & Bejamin,2001). Diskriminasi dalam pengkondisian klasik terjadi ketika organisme merespons stimuli tertentu tetapi tidak merespon stimuli lainnya (Murphy, Beker, & Fouquet ,2001). Pelenyapan (extinction) dalam pengkondisian klasik adalah pelemahan CR karena tidak adanya US. b. Desentisasi sistematis Desentisasi sistematis adalah sebuah metode yang didasarkan pada pengkondisian klasik yang dimaksudkan untuk mengurangi kecemasan dengan cara membuat individu mengasosiasikan relaksasi dengan visualisasi situasi yang menimbulkan kecemasan. Desensitisasi melibatkan sebuah tipe counterconditioning (McNeil, 2000). Perasaan rileks yang dibayangkan murid (US) menghasilkan reaksi (UR). Murid kemudian akan mengasosiasikan isyarat yang menimbulkan kecemasan (CS) dengan perasaan relaksasi. Semua isyarat yang menimbulkan kecemasan akan menghasilkan relaksasi (CR). c. Mengevaluasi pengkondisian klasik Pengkondisian klasik membantu kita memahami beberapa aspek pembelajaran dengan lebih baik. Namun, cara ini tidak efektif untuk menjelaskan perilaku sukarela, seperti mengapa murid belajar keras untuk satu mata pelajaran atau lebih menyukai sejarah ketimbang geografi. 2. Pengkondisian Operan Pengkondisian Operan adalah sebentuk pembelajaran di mana konsekuensi dari perilaku menghasilkan perubahan dalam probabilitas perilaku itu akan diulangi. a. Hukum efek Thorndike Hukum efek (law effect) Thorndike mengatakan bahwa perilaku yang diikuti dengan hasil positif akan diperkuat dan bahwa perilaku yang diikuti hasil negatif akan diperlemah. Pandangan Thorndike disebut teori S-R karena perilaku organisme itu dilakukan sebagai akibat dari hubungan antara stimulus dan respons. b. Pengkondisian operan skinner Penguatan dan hukuman Penguatan/ imbalan (reinforcement), adalah kosekuensi yang meningkatkan probabilitas bahwa suatu perilaku akan terjadi. Penguatan ada dua yaitu : 1. Penguatan positif, frekuensi respons meningkat karena diikuti dengan stimulus yang mendukung (rewarding). Dalam penguatan positif ada sesuatu yang ditambahkan atau diperoleh. 2. Penguatan negatif, frekuensi respons meningkat karena diikuti dengan penghilangan stimulus yang merugikan (tidak mennyenangkan) (Frieman,2002). Dalam penguatan negatif, ada sesuatu yang dikurangi atau dihilangkan. Hukuman (punishment) adalah konsekuensi yang menurunkan probabilitas terjadinya suatu perilaku. Generalisasi, diskriminasi dan pelenyapan Generalisasi dalam pengkondisian operant berarti memberikan respon yang sama terhadap stimuli yang sama. Diskriminasi dalam pengkondisian operan berarti pembedaan di antara stimuli dan kejadian lingkungan . dalam pengkondisian operan, pelenyapan (extinction) terjadi ketika respon penguat sebelumnya tidak lagi diperkuat dan responnya menurun di kelas, pelenyapan yang paling umum bagi guru adalah tidak lagi memberi perhatian pada suatu perilaku. B. Analisis perilaku terapan dalam pendidikan Analisis perilaku terapan adalah penerapan prinsip pengkondisian operan untuk mengubah perilaku manusia. Ada tiga penggunaan analisis perilaku yang penting dalam bidang pendidikan : 1. Meningkatkan perilaku yang diharapkan Ada 5 strategi pengkondisian operan dapat dipakai untuk meningkatkan perilaku anak yang diharapkan : a. Memilih penguat yang efektif, tidak semua penguat akan sama efeknya bagi anak. Untuk mencari penguat yang paling efektif bagi seorang anak , kita bisa meneliti apa yang memotivasi anak di masa lalu (sejarah penguatan), apa yang ingin dilakukan murid tapi tidak mudah diperolehnya, dan persepsi anak terhadap manfaat atau nilai penguat. Penguat yang sering dipakai oleh guru adalah aktivitas.Prinsip Premack, yang ditemukan oleh David Premack, menyatakan bahwa aktivitas berprobabilitas tinggi dapat berfungsi sebagai penguat aktivitas berprobabilitas rendah. b. Menjadi penguat kontingen dan tepat waktu, Agar sebuah penguat dapat efektif, guru harus memberikan hanya setelah murid melakukan perilaku tertentu. Penguat akan lebih efektif jika diberikan tepat pada waktunya, dan disegerakan secepat mungkin setelah murid menjalankan tindakan yang diharapkan. c. Memilih jadwal penguat terbaik, Skinner (1953) menyusun konsep jadwal penguatan , yang merupakan jadwal penguatan parsial yang menentukan kapan suatu respons akan diperkuat. Empat jadwal penguatan utama : - Jadwal rasio-tetap, suatu perilaku diperkuat setelah sejumlah respons. - Jadwal rasio-verbal, suatu perilaku diperkuat setelah terjadi sejumlah respons, akan tetapi tidak berdasarkan pada basis yang dapat diprediksi. - Jadwal interval-tetap, respons tepat pertama setelah beberapa waktu akan dperkuat. - Jadwal interval- variabel, suatu respons diperkuat setelah sejumlah variabel waktu berlalu. d. Menggunakan perjanjian Perjanjian (contracting) adalah menempatkan kontingensi penguatan dalam tulisan. Analisis perilaku terapan mengatakan bahwa perjanjian kelas harus berisi masukan dari guru dan murid. e. Menggunakan penguatan negatif secara efektif Menggunakan penguatan negatif memiliki sejumlah kekurangan. Kadang-kadang ketika guru menggunakan strategi behavioral ini, anak marah, lari ke luar ruang, atau menobrak-abrik barang. 2. Menggunakan dorongan (prompt) dan pembentukan (shaping) Prompt (dorongan) adalah stimulus tambahan atau isyarat tambahan yang diberikan sebelum respons dan meningkatkan kemungkinan respons itu akan terjadi. Prompt membantu perilaku terus berlajut. Setelah murid secara konsisten menunjukan respon yang benar, maka prompt tidak dibutuhkan lagi. Shaping adalah mengajari perilaku baru dengan memperkuat perilaku yang mirip dengan perilaku sasaran. Shaping diimplementasikan hanya jika tipe penguatan positif dan prompt tidakk berhasil. Shaping membutuhkan penguatan sejumlah langkah kecil menuju keperilaku sasaran, dan ini mungkin memerlukan waktu yang lama. 3. Mengurangi perilaku yang tidak diharapkan Langkah-langkah mengurangi perilaku yang tidak diharapkan : a. Menggunakan penguatan diferensial, guru memperkuat perilaku yang lebih tepat atau yang tidak sesuai dengan apa yang dilakukan anak. b. Menghentikan penguatan (pelenyapan),Strategi menghentikan penguatan ini adalah menarik penguatan terhadap perilaku tidak tepat atau tidak pantas. Banyak guru kesulitan untuk mengetahui apakah mereka telah memberi perhatian terlalu banyak pada perilaku tidak tepat. c. Menghilangkan stimuli yang diinginkan. Dua strategi dalam opsi ini adalah : · Time-out,Paling sering dipakai guru untuk menghilangkan stimuli yang diinginkan. · Responce cost, yakni menjauhkan penguatan positif dari murid. Seperti halnya time-out, response cost harus diiringi dengan strategi untuk meningkatkan perilaku positif si murid. d. Menyajikan stimuli yang tidak disukai (hukuman) Stimuli tidak menyenangkan ini bukan hukuman efektif karena stimuli itu tidak mengurangi perilaku yang tidak diinginkan dan bahkan kadang-kadang menambahkan perilaku yang tak diinginkan. Tipe paling umum dari stimuli yang tidak menyenangkan ini adalah guru menggunakan teguran verbal. 4. Mengevaluasi pengkondisian operan dan analisis terapan Pengkondisian operan dan analisis perilaku terapan memberi banyak kontribusi untuk praktik pengajaran (Kadzin,2001 ;Martin & Pear,2002; Purdy,dkk,2001). Kritrik terhadap pengkondisian operan dan analisis perilaku terapan mengatakan bahwa seluruh pendekatan itu terlalu banyak menekankan pada kontrol eksternal atas perilaku murid. - Jadwal rasio-tetap, suatu perilaku diperkuat setelah sejumlah respons. - Jadwal rasio-verbal,suatu perilaku diperkuat setelah terjadi sejumlah respons, akan tetapi tidak berdasarkan pada basis yang dapat diprediksi. - Jadwal interval-tetap, respons tepat pertama setelah beberapa waktu akan dperkuat. - Jadwal interval- variabel, suatu respons diperkuat setelah sejumlah variabel waktu berlalu. d. Menggunakan perjanjian Perjanjian (contracting) adalah menempatkan kontingensi penguatan dalam tulisan. Analisis perilaku terapan mengatakan bahwa perjanjian kelas harus berisi masukan dari guru dan murid. e. Menggunakan penguatan negatif secara efektif Menggunakan penguatan negatif memiliki sejumlah kekurangan. Kadang-kadang ketika guru menggunakan strategi behavioral ini, anak marah, lari ke luar ruang, atau menobrak-abrik barang. 2. Menggunakan dorongan (prompt) dan pembentukan (shaping) Prompt (dorongan) adalah stimulus tambahan atau isyarat tambahan yang diberikan sebelum respons dan meningkatkan kemungkinan respons itu akan terjadi. Prompt membantu perilaku terus berlajut. Setelah murid secara konsisten menunjukan respon yang benar, maka prompt tidak dibutuhkan lagi. Shaping adalah mengajari perilaku baru dengan memperkuat perilaku yang mirip dengan perilaku sasaran. Shaping diimplementasikan hanya jika tipe penguatan positif dan prompt tidakk berhasil. Shaping membutuhkan penguatan sejumlah langkah kecil menuju keperilaku sasaran, dan ini mungkin memerlukan waktu yang lama. 3. Mengurangi perilaku yang tidak diharapkan Langkah-langkah mengurangi perilaku yang tidak diharapkan : a. Menggunakan penguatan diferensial, guru memperkuat perilaku yang lebih tepat atau yang tidak sesuai dengan apa yang dilakukan anak. b. Menghentikan penguatan (pelenyapan),Strategi menghentikan penguatan ini adalah menarik penguatan terhadap perilaku tidak tepat atau tidak pantas. Banyak guru kesulitan untuk mengetahui apakah mereka telah memberi perhatian terlalu banyak pada perilaku tidak tepat. c. Menghilangkan stimuli yang diinginkan. Dua strategi dalam opsi ini adalah : · Time-out,Paling sering dipakai guru untuk menghilangkan stimuli yang diinginkan. · Responce cost, yakni menjauhkan penguatan positif dari murid. Seperti halnya time-out, response cost harus diiringi dengan strategi untuk meningkatkan perilaku positif si murid. d. Menyajikan stimuli yang tidak disukai (hukuman) Stimuli tidak menyenangkan ini bukan hukuman efektif karena stimuli itu tidak mengurangi perilaku yang tidak diinginkan dan bahkan kadang-kadang menambahkan perilaku yang tak diinginkan. Tipe paling umum dari stimuli yang tidak menyenangkan ini adalah guru menggunakan teguran verbal. 4. Mengevaluasi pengkondisian operan dan analisis terapan Pengkondisian operan dan analisis perilaku terapan memberi banyak kontribusi untuk praktik pengajaran (Kadzin,2001 ;Martin & Pear,2002; Purdy,dkk,2001). Kritrik terhadap pengkondisian operan dan analisis perilaku terapan mengatakan bahwa seluruh pendekatan itu terlalu banyak menekankan pada kontrol eksternal atas perilaku murid. Nahh demikian hasil resume saya tentang Pendekatan Behavioral dalam pembelajaran. Daftar Pustaka : Santrock.John.W"Psikologi Pendidikan,edisi kedua" McGraw-Hill Company,Inc.

Minggu, 19 Maret 2017

Tugas psikologi pendidikan : Implikasi sesuai masa perkembangan

Haii teman-teman kali ini saya memposting tentang hasil kerja kelompok kami yang membahas tentang implikasi atau contoh cara belajar pada tahap perkembangan pendidikan, semoga bermanfaat yaaa.. Tugas Psikologi Pendidikan Kelompok: 10 Fikri Dien (161301016) Izdihar Afra (161301022) Yuliasti (161301027) Dinda Pramadi Putri (161301037) Yusnita Tarigan (161301038) Gita Clara Tinambunan (161301063) Farel Andhika Fajar (161301067) Cari bagaimana implikasi atau contoh cara belajar pada tahap perkembangan TK, SD, SMP, dan SMA terhadap pendidikan! Penyelesaian : Pada tahap perkembangan TK (Taman Kanak-Kanak) Tahap perkembangan pada masa TK kurang lebih sesuai dengan masa kanak-kanak awal yang berkisar antara usia 2-6 tahun. Pada fase ini, anak-anak mengalami empat macam masa yaitu, masa negativitis (trotzalter), masa bermain, masa eksplorasi, dan juga masa meniru. Sesuai dengan teori yang dikemukakan oleh Jean Piaget, tahap kognitif pada masa ini berada pada tahap praoprasional di mana bersifat egosentris dan juga ada kemajuan dalam bahasa. Sedangkan pada teori perkembangan moral yang dikemukakan oleh Lawrence Kohlberg, masa ini berada pada tahap prakonvensional yang dibagi menjadi dua tahap: a) tahap 1 (2-4 tahun) orientasi hukuman dan b) tahap 2 (4-6 tahun) orientasi ganjaran. Dengan kata lain, anak-anak yang berada pada tahap 1 dapat diberikan hukuman apabila melakukan kesalahan karena mereka belum dapat membedakan dengan baik antara yang benar dan yang salah, sedangkan anak-anak yang berada pada tahap 2 dapat diberikan ganjaran (pujian) untuk setiap perbuatan baik yang mereka lakukan. Dalam masa ini, penting sekali untuk melakukan penanaman moral, mengingat salah satu yang terjadi pada masa ini adalah adanya masa meniru. Hal lain yang juga penting adalah bahwa tidak memaksakan anak-anak pada masa ini untuk belajar karena masa ini adalah masanya bermain, tidak ada larangan untuk belajar terlebih jika dilakukan sambil bermain dan juga tidak adanya paksaan terhadap anak. Pada masa ini juga keingintahuan anak-anak meningkat sehingga mereka akan sering bertanya untuk mengetahui lebih banyak hal dan juga untuk memenuhi keingintahuannya. Maka dari itu, metode pendidikan yang tepat pada masa ini adalah belajar sambil bermain untuk mengasah kemampuan softskill-nya serta memberikan penjelasan mengenai keingintahuannya diiringi dengan penanaman moral yang tepat. Contoh: Beberapa taman kanak-kanak yang berbasis “sekolah alam dan sains” mengajak para peserta didiknya untuk mengekplorasi alam dan juga meningkatkan keberanian serta kekompakan mereka dengan adanya kegiatan outbound yang menjadi salah satu kegiatan wajib di sekolah mereka tersebut. Sebuah taman kanak-kanak mengajarkan pada muridnya berhitung dengan cara bernyanyi sambil bermain dengan harapan anak tersebut bisa meningkatkan kemampuan berhitung dengan baik dan lebih cepat. Pada tahap perkembangan SD (Sekolah Dasar) Siswa SD adalah mereka yang usianya masih sekitar 6-11 tahunan, usia yang senang-senangnya bermain. Jelas ini membuat para guru SD harus kerja lebih keras dalam menerapkan berbagai strategi belajar. Dalam belajar siswa SD terkadang mengalami kesulitan dalam mengingat sesuatu. Ditambah lagi jika materinya banyak, pasti lebih sulit lagi. Nah disinilah guru harus memberikan sebuah langkah jitu untuk mengatasi itu semua. Salah satu cara yang bisa digunakan adalah dengan metode "Chunking". Metode chunking adalah metode yang memudahkan siswa dalam mengingat sesuatu. Contoh dari penggunaan metode ini, misalkan siswa di suruh mengingat sederet kata: Sapi, Rumput, Lapangan, Tennis, Air, Anjing, Danau. Dalam hal ini siswa bisa mempergunakan metode chungking untuk mengingat kata tersebut, Menjadi : "SAPI terlihat makan RUMPUT disamping LAPANGAN TENNIS. Setelah itu ia meminum AIR yang tidak jauh dari ANJING yang sedang memandang DANAU di sebrang" Salah satu cara belajar yang juga bisa digunakan untuk siswa SD adalah dengan metode mengembangkan brainstorming. Brainstorming adalah teknik di mana orang-orang dalam sebuah kelompok didorong untuk menghasilkan ide kreatif, saling bertukar gagasan, dan mengatakan apa saja yang ada di pikiran mereka yang tampaknya relevan dengan isu tertentu. Cara ini dapat dilakukan oleh sang guru dengan melontarkan sebuah pertanyaan atau suatu isu sehingga membiarkan siswa SD mengeluarkan pendapatnya semaksimal mungkin, walaupun pendapat yang dilontarkan bisa menjadi hal yang tidak masuk akal. Hal ini dilakukan agar siswa SD berani dalam mengeluarkan apa yang difikirkannya. Pada tahap perkembangan SMP (Sekolah Menengah Pertama) Pada tahap perkembangan SMP (Sekolah Menengah Pertama) merupakan masa remaja (Adolescence) yang dimulai dari usia 11/12 tahun – 18/24 tahun. Pada tahap ini perkembangan emosional yang tidak stabil, berubah-ubah, dan cenderung meledak-ledak serta perkembangan kognitif yaitu pada tahap operasional formal di mana masih memiliki pola berpikir cenderung egosentris yaitu berpikir mengenai suatu hal menurut pandangannya sendiri. Pada tahap ini cara belajar yang tepat diberikan pada anak SMP ialah belajar sambil berdiskusi dalam kelompok. Dengan berdiskusi berarti ia harus mendengarkan dan menerima pendapat serta saran dari orang lain sehingga melatih diri untuk menahan emosional yang tidak stabil tersebut serta mendengarkan pandangan atau pendapat dari orang lain mengenai suatu hal. Maka, belajar sambil berdiskusi dalam kelompok ialah cara belajar yang tepat pada tahap perkembangan SMP (Sekolah Menengah Pertama). Anak usia smp merupakan anak-anak pada usia peralihan kanak-kanak dan dewasa. Disebut masa remaja. Pada masa ini anak akan mengalami masa pertumbuhan dan perkembangan fisiknya dan psikisnya, sehingga proses belajar yang tepat digunakan iyalah menumbuhkan sikap disiplin anak, misalnya dengan memberikan hukuman pada anak yang tidak mengerjakan tugas, hal tersebut akan membuat anak malu, mengingat masa ini adalah masa perkembangannya maka sang anak akan mulai merasa tertarik kepada lawan jenisnya, hal tersebut dapat menjadi motivasi pada anak untuk selalu tampil lebig baik. Proses belajar lainnya juga dapat di padukan dengan lingkungan. Mereka akan lebih memahami pelajaran bila pelajaran terjebut dipadukan dengan hal-hal yang menyanangkan. Misalnya belajar sambil mengeksplorasi lingkungannya, membawanya ketempat-tempat yg nyaman atau sesuai dengan pembelajaran. Pada tahap perkembangan SMA (Sekolah Menengah Atas) Pada masa SMA antara usia 15-18 tahun yaitu masa remaja, mereka mulai mencari identitas mereka. Pada masa ini, remaja mampu memahami dan mengkaji konsep-konsep abstrak dalam batas-batas tertentu. Kecenderungan-kecenderungan remaja untuk melibatkan diri dalam hal-hal yang tidak tergali, guru dapat membantu mereka dengan menggunakan pendekatan keterampilan proses dengan memberi penekanan pada penguasaan konsep-konsep abstrak. Karena siswa pada usia remaja ini masih dalam proses penyempurnaan penalaran, guru hendaknya tidak menganggap bahwa mereka berpikir dengan cara yang sama dengan guru. Cara yang baik dalam mengatasi bentuk-bentuk pemikiran yang belum matang ialah membantuk siswa menyadari bahwa mereka telah melupakan pertimbangan-pertimbangan tertentu. Namun,bila permasalahan tersebut merupakan masalah kompleks dengan bobot emosi yang cukup dalam, hal itu bukan tugas yang mudah. Kelompok belajar terdiri dari siswa-siswa yang memiliki variasi bahasa yang berbeda-beda baik kemampuan maupun polanya. Sehubungan dengan itu, dalam mengembangkan strategi belajar mengajar di bidang bahasa, guru perlu memfokuskan pada kemampuan dan keragaman bahasa anak. Anak diminta untuk melakukan pengulangan pelajaran yang telah diberikan dengan kata-kata yang disusun sendiri. Dengan cara ini, guru dapat melakukan identifikasi tentang pola dan tingkat kemampuan bahasa mereka. Kalimat atau cerita anak tentang isi pelajaran perlu diperkaya dan diperluas oleh guru agar mereka mampu menyusun cerita yang lebih komprehensif tentang isi bacaan yang telah dipelajari dengan menggunakan pola bahasa mereka sendiri.

Senin, 06 Maret 2017

Psikologi Pendidikan: Perencanaa, Instruksi , dan Teknologi

Kelompok 10 Ketua: Farel Andhika Fajar (161301067) Anggota: Fikri Dien (161301016) Izdihar Afra (161301022) Yuliasti (161301027) Dinda Pramadi Putri (161301037) Yusnita Tarigan (161301038) Gita Clara Tinambunan (161301063)

Contoh-Contoh dalam Pembelajaran Classical Conditioning, Operant Conditioning, dan Kognitif

Classical Conditioning: Belajar Asosiasi
Pengertian belajar menurut classical conditioning adalah suatu bentuk di mana stimulus netral yang berupa conditioned stimulus (CS) dipasangkan dengan unconditioned stimulus (UCS) untuk dapat mengubah unconditioned response (UCR) menjadi conditioned response (CR) hanya karena adanya CS.
Elemen kunci dari classical conditioning adalah asosiasi dari dua stimulus. Classical conditioning sendiri dapat dihilangkan dengan counter conditioning. Classical conditioning, salah satunya, berperan dalam memahami masalah phobia.

Contoh Classical Conditioning, antara lain:
Seorang anak selalu mencuci piringnya setelah selesai makan karena ibunya pernah memintanya melakukan hal tersebut sebelumnya. Setelah terbiasa melakukan hal tersebut, sang ibu mencoba untuk menaruh piring kotor lainnya di tempat cuci piring, sang anak yang hendak mencuci piring yang baru dipakainya pun mencuci piring kotor lainnya juga. Hal tersebut dilakukan berulang kali. Sehingga, jka sang anak tidak memiliki kegiatan dan melihat ada piring yang kotor, ia pun akan langsung mencucinya saat itu juga walaupun tidak ada piring yang dipakainya.
Seorang wanita hanya berselera makan jika hidangan utama yang akan dia makan pedas. Namun, ternyata wanita itu menikah dengan seorang pria yang menyukai hidangan utama yang manis. Setiap hari, ia pun memasak untuk hidangan pedas dan hidangan manis pada satu waktu dan juga ikut memakan keduanya. Hal itu berlangsung terus-menerus hingga sang wanita menjadi berselera makan walaupun hidangan utama yang tersaji adalah hidangan yang manis dan tidak ada hidangan yang pedas.
Seorang anak yang terbiasa tinggal dengan orangtuanya dengan terpaksa harus mengekos karena berkuliah di kota lain. Pada dua minggu pertama, ibunya juga ikut tinggal di tempat kosnya agar sang anak lebih mudah beradaptasi untuk tinggal tanpa ibunya. Setelah batas waktu yang telah ditentukan, ibunya kembali ke kota asalnya, sang anak pun mulai terbiasa untuk tinggal di tempat kosnya walaupun sang ibu tidak bersamanya.
Seorang satpam di sebuah kantor di perintahkan untuk membukakan pintu mobil bossnya, karena dia terlalu sering melakukan itu. Pada suatu hari satpam itu tetap membukakan pintu mobil bossnya tanpa di perintahkan oleh bossnya.
Seorang anak laki-laki di suruh oleh ayahnya untuk mencuci mobil yang kotor, karena setiap melihat mobil kotor anak itu pasti mencucinya. Pada suatu hari si anak melihat mobil itu kotor dan tanpa disuruh pun si anak langsung mencuci mobil tanpa perlu diperintahkan oleh ayahnya.

Operant Conditioning
Operant Conditioning (juga dinamakan pengkondisian instrumental) adalah sebentuk pembelajaran di mana konsekuensi-konsekuensi dari perilaku menghasilkan perubahan dalam probabilitas perilaku itu akan diulang. Di dalam Operant Conditioning memiliki dua Inforcement (penguatan) dan hukuman. Dua Inforcement tersebut ialah Positive Inforcement yaitu penguatan berdasarkan prinsip bahwa frekuensi respons meningkat karena diikuti dengan stimulus yang mendukung atau rewarding, Negative Inforcement yaitu penguatan berdasarkan prinsip bahwa frekuensi respons meningkat karena diikuti dengan penghilangan stimulus yang merugikan (tidak menyenangkan), dan hukuman yaitu konsekuensi yang menurunkan probabilitas terjadinya suatu perilaku.
 Contoh dari Operant Conditioning, antara lain :
Positive Reinforcement
Saat saya berada di kelas 1 SMP sewaktu pembagian rapot semester pertama, saya mendapatkan peringkat pertama di kelas. Saya merasa sangat senang dan memberitahu kedua orang tua saya tentang kabar gembira itu. Orang tua saya memberikan pujian dan memberikan reward berupa handphone setelah beberapa hari mengetahui kabar gembira itu. Aku semakin merasa senang dan membuat ku semakin termotivasi untuk mendapatkan peringkat pertama lagi di semester-semester berikutnya.

Positive Inforcement : 
Pemberian pujian dan reward berupa handphone dari orang tua sehingga membuat ku untuk terus mendapatkan peringkat pertama.
Stimulus yang mendukung yaitu pemberian pujian dan reward dari orang tua.
Respons yang meningkat yaitu untuk terus mendapatkan peringkat pertama.

Saya belajar tilawah (MTQ) dengan seorang guru mengaji saat berumur 10 tahun. Pada awal belajar tilawah, saya merasa kurang percaya diri untuk memulai mengaji berirama seperti yang telah dicontohkan guru saya. Namun, seiring waktu rasa percaya diri saya mulai muncul yang membuat saya mulai berani untuk mengikuti irama mengaji guru saya. Keberanian ini muncul karena kedua orang tua saya selalu memberikan keyakinan dan dorongan bahwa saya mampu untuk melakukannya. Hingga suatu saat, saya mulai mengikuti perlombaan tilawatil Quran (MTQ), perlombaan yang pertama kali saya ikuti mendapatkan juara harapan dua. Kemudian, saya menyadari bahwa saya mampu melakukannya dan harus menjadi lebih baik lagi di perlombaan selanjutnya. Saya berpikir jika saya mengaji lebih baik lagi pasti saya akan mendapatkan posisi juara yang lebih baik pula. Oleh karena itu, saya belajar lebih keras dan lebih giat lagi. Hingga pada perlombaan berikutnya saya mendapatkan juara 3, juara 2, hingga juara 1.

Positive Inforcement :
Pemberian semangat, keyakinan, dan dorongan dari orang tua yang membuat saya terus ingin melakukan yang terbaik hingga akhirnya bisa mendapatkan juara 1 pada lomba MTQ.
Stimulus yang mendukung yaitu pemberian semangat, keyakinan, dan dorongan dari orang tua.
Respons yang meningkat yaitu terus ingin melakukan yang terbaik hingga akhirnya bisa mendapatkan juara 1 pada lomba MTQ.

Negative Inforcement
Saat saya mulai memasuki masa remaja di mana masa pencarian identitas diri dan cenderung memiliki emosi yang tidak stabil. Saya menjadi lebih pemarah dan egois, pola belajar saya juga sempat tidak teratur karena saya sering berpergian dengan teman-teman sekolah. Suatu saat, nilai ujian saya tidak sebagus biasanya dan saya merasa sangat menyesal, sesampainya di rumah saya menceritakan tentang nilai saya kepada orang tua saya. Tetapi, mereka tidak memarahi saya melainkan memberikan sindiran-sindiran yang membuat saya merasa bersalah. Sejak itu, saya mulai bisa mengontrol diri saya dan sebisa mungkin mengatur pola belajar saya menjadi lebih baik. 

Negative Inforcement :
Pemberian sindiran-sindiran dari orang tua yang membuat ku merasa bersalah sehingga membuat ku ingin berusaha lagi untuk mendapatkan nilai yang baik seperti yang biasanya aku dapatkan.
Stimulus yang tidak menyenangkan yaitu pemberian sindiran-sindiran dari orang tua.
Respons yang meningkat yaitu berusaha lagi untuk mendapatkan nilai yang baik seperti yang biasanya aku dapatkan.

Keponakan saya yang berumur 5 tahun cukup sulit untuk disuruh mandi. Dia terlalu banyak bermain yang membuatnya keletihan sehingga ia langsung tertidur. Dan saat dibangunkan cukup sulit untuk menyuruhnya mandi. Sehingga, ibunya mengomelinya setiap kali ia disuruh mandi. Namun, karena sudah terlalu sering diomeli oleh ibunya. Akhirnya, ia tidak sulit lagi untuk disuruh mandi karena tidak ingin mendengar omelan dari ibunya laginya.




Negative Inforcement :
Pemberian omelan secara terus-menerus dari ibunya yang membuat si anak tersebut tidak sulit lagi untuk disuruh mandi karena tidak ingin mendengar omelan ibunya lagi.
Stimulus yang tidak menyenangkan yaitu pemberian omelan secara terus-menerus dari orang tua.
Respons yang meningkat yaitu tidak sulit lagi untuk disuruh mandi karena tidak ingin mendengar omelan ibunya lagi.

Punishment atau Hukuman 
Saat pelajaran biologi, saya tidak membawa buku biologi yang membuat saya mendapatkan hukuman dari guru biologi saya. Sebagai akibatnya, saya tidak diizinkan masuk untuk mengikuti mata pelajaran Biologi darinya. 

Punishment atau Hukuman :
Pemberian hukuman berupa tidak diizinkan untuk masuk ke kelas yang membuat saya pada pertemuan berikutnya akan selalu membawa buku Biologi.


Kognitif 
Dalam belajar kognitif, faktor yang mempengaruhi proses pembelajaran seseorang ialah dalam bentuk penerimaan, pengelolaan dan memutuskan informasi. Sebagai contoh, dalam kehidupan sehari-hari saat kita mendengar nada dering panggilan handphone, kita akan memutuskan untuk menjawab panggilan kemudian berbicara dengan si penelfon atau menolak panggilan tersebut kemudian melanjutkan kegiatan kita. Saat kita memutuskan menerima panggilan tersebut, disinilah dimana kita melakukan proses kognitif , yaitu kita dapat menerima, mengolah, dan memutuskan suatu informasi tersebut.  
Dalam belajar kognitif, faktor lain yang mempengaruhi proses belajar seseorang ialah bagaimana seseorang memahami hal-hal baru yang ada disekitarnya dan kemudian ditransformasikan sebagai pengetahuan. Misalnya, seorang siswa akan mencoba memahami pelajaran yang dijelaskan oleh guru. Siswa akan mulai berfikir, lalu memahami pelajaran tersebut dan kemudian menerapkannya. Sebagai contoh, guru tersebut menjelaskan pelajaran mengenai bumi dan kerusakan alam,  siswa akan mulai berfikir, lalu memahami bahwa kerusakan alam itu dapat berdampak sangat buruk bagi kehidupan manusia. Setelah memahami pelajaran tersebut, siswa akan mulai mengevaluasi dan menerapkan hal-hal yang dapat mencegah rusaknya lingkungan hidup manusia. Hal tersebut termasuk dalam belajar kognitif karna dalam prosesnya menyangkut proses belajar yang berhubungan dengan nalar atau pikiran.
Seorang pengemudi motor yang baru belajar di ajarkan oleh bapaknya, dia sedang mencoba untuk memahami apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan. Jika dia tidak melanggar di hari itu, dia tentu mengetahui akan terjadi sesuatu yang buruk seperti kecelakaan.
Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering melihat berita yang tidak diketahui kebenarannya. Kemudian kita memutuskan untuk tidak mempercayainya.
Saat para wanita sedang berbelanja di mall, dia tentu melihat barang bagus. Akan tetapi, uang yang dia bawa tidak mencukupi untuk membeli barang tersebut. Kemudian dia memutuskan untuk menghiraukan barang bagus tersebut.